Holopis Kuntul Baris Gerakan Zakat Indonesia (Bagian 2)

0
139

Sahabat Amil yang dimuliakan Allah..

Menjadi amil bagi sebagian kita mungkin pada awalnya bukan impian, apalagi cita-cita ketika masa kecil dahulu. Namun menjadi amil zakat juga seyogianya tak membuat kita bersedih, apalagi malah merasa minder atau menderita. Tak perlu kita merasa gagal ketika akhirnya profesi hari ini mengantarkan kita pada kedudukan sebagai seorang amil.

Amil sebagai sebuah profesi pengelola zakat, semakin ke sini semakin akan menemukan bentuk profesionalismenya, baik dari sisi regulasi maupun nantinya dalam kedudukan, tugas pokok dan fungsinya.

Yang kita bisa lakukan hari ini adalah teruslah meluruskan niat dan memperbaiki diri serta bersama-sama dalam melayani dan memuliakan umat. Penunaian tugas-tugas amil di tengah situasi saat ini tak bisa lagi sendirian. Amil harus “holopis kuntul baris” dalam bingkai kuatnya ukhuwah dan rasa gotong royong untuk memperbaiki keadaan dan membuat kebaikan-kebaikan baru di setiap waktu dan kesempatan.

Memperbaiki Orientasi

Sudah saatnya para amil bekerja dengan terus memperbaiki orientasi dan cara pandang. Bahwa amil adalah pekerjaan mulia kita tahu semua, dan karena keinginan untuk terus menjaga spirit kemuliaan ini amil harus terus bergandengan bersama. Merasa setara dan sesama saudara, sehingga kebersamaan kuat diantara amil bukan lagi teori dan keinginan semata. Ia harus mewujud nyata dan menjadi bukti bahwa amil adalah sebuah gerbong, lengkap dengan jalannya yang lurus beserta lokomotifnya.

Sudah saatnya amil beralih spirit, dari semangat pengakuan menjadi semangat amal yang memuliakan. Setiap kerjanya adalah nafas kebaikan yang terus ia hembuskan hingga disetiap detik hidupnya sebagai seorang amil. Amil saatnya bekerja sepenuh jiwa, dengan seluruh kemampuan yang ada dilandasi semangat keikhlasan dan spirit perjuangan memperbaiki keadaan.

“Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (At-Taubah: 105).

Ayat di atas sejatinya semakin memantik kesungguhan amil untuk meninggalkan medan pujian kata dan pengakuan manusia menjadi medan kesungguhan kerja dan besarnya pahala yang akan didapatinya sebagai seorang amil saat bekerja sungguh-sungguh. Ayat ini juga memotivasi kita semua para amil, bahwa Allah pasti melihat seluruh pekerjaan kita sehingga mendatangkan keyakinan bahwa di sisi-Nya tak ada kebaikan yang tak dihitung dan sia-sia.

Menurut Ustadz Amil Faishol Fath (https://www.dakwatuna.com/2007/02/26/113/keharusan-beramal/) ketika beliau menjelaskan Tafsir ayat tadi, ternyata niat baik saja tidak cukup. Niat baik harus tercermin dalam perbuatan. Perbuatan pun harus sesuai dengan petunjuk-Nya, bukan karangan akalnya sendiri.

Mengutip ungkapan Sayed Quthub, Ustadz Amir Faisol Path mengatakan bahwa : _”Islam adalah manhaj yang realistis, gelora niat dan semangat tidak akan berdampak apa-apa sepanjang tidak diterjemahkan dalam gerakan nyata. Memang, diakui bahwa niat yang baik mempunyai posisi tertentu dalam Islam. Tetapi niat saja belum cukup untuk membangun pahala, sebab ia akan dihitung setelah tercermin dalam bentuk perbuatan. Begitu perbuatan muncul, di sini peranan niat menentukan kualitasnya. Inilah makna hadits: “Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya.” Perhatikan, dalam hadits ini perbuatan digabung dengan niat, bukan niat saja_. (Sayed Quthub. Fii dzilalil Qur’an. Bairut, Darusy syuruq, 1985, vol. 3, h. 1709).

Jadi bagi kita sebagai amil, sudah selayaknya untuk terus meluruskan niat dan memperbaiki kualitas kerja kita. Kata Ustadz Faishol : _”Keikhlasan ( _sihhatun niyah_) dan benarnya perbuatan ( _sihhatul amal_) _adalah inti utama yang sangat menentukan. Keduanya adalah cerminan dari seluruh rangkaian kata dan kalimat dalam ayat di atas”_

Beliau juga mengatakan bahwa niat dan amal ini _”ibarat dua sayap bagi burung, ikhlas dan kebenaran amal akan mengantarkan pelakunya kepada tujuan yang didambakan. Sudah barang tentu seekor burung tidak akan bisa terbang hanya dengan satu sayap”._

Masih dalam cara pandang terhadap niat dan amal, Ustadz Faishol mengutip pemdapat Syaikh Rasyid Ridha. Menurut beliau : _”Syeikh Rasyid Ridha dalam tafsirnya Al-Manarmenerangkan makna ayat tersebut begini : “Wahai Nabi, katakan kepada mereka bekerjalah untuk dunia, akhirat, diri dan umatmu. Karena yang akan dinilai adalah pekerjaanmu, bukan alasan yang dicari-cari; pun bukan pengakuan bahwa Anda telah berusaha secara maksimal. Kebaikan dunia dan akhirat pada hakikat tergantung pada perbuatan Anda. Allah mengetahui sekecil apapun dari perbuatan tersebut, maka Allah menyaksikan apa yang Anda lakukan dari kebaikan maupun keburukan. Karenanya, Anda harus senantiasa waspada akan kesaksian Allah, baik itu berupa amal maupun berupa niat, tidak ada yang terlewatkan. Semuanya tampak bagi-Nya. Oleh sebab itu Anda harus senantiasa menyempurnakannya (itqan), ikhlas, dan mengikuti petunjuk-Nya dalam menjalankan ketaatan sekecil apapun”_ (lihat, Rasyid Ridha. Tafsir Al Manar. Tanpa tahun, vol. 11, h. 33).

Kini semakin jelas, bahwa amil bekerja tak semata untuk sekedar pengakuan, tapi lebih dari itu esensinya ada pada kemanfaatan dan kualiatas amalnya itu sendiri.

Bersama Hingga Ke Surga

Ber-holopis kuntul baris adalah semangat saling menjaga, menguatkan dan Kegotongroyongan yang bersendikan semangat keikhlasan dan itsar menjadi cermin kebersamaan ini. Tanpa spirit saling bantu dan saling tolong, tentu tak mencerminkan spirit holopis kuntul baris. Bagi amil sangat jelas gambarannya, ia tak cukup membantu dan menolong mustahik, namun saat yang sama harus juga mencerminkan pergaulan dan gambaran lingkungan amil yang saling dukung dan saling bekerjasama dalam indahnya ukhuwah Islam yang nyata.

Bila kita menelusuri spirit saling bantu sesama, sesungguhnya semangat kedermawanan, semangat filantropis maupun jiwa berbagi sejatinya adalah persoalan nurani dan fitrah manusia. Kadang tanpa landasan keimanan dan keislaman, seseorang terpanggil hatinya untuk berbagi kepada sesama. Lihat saja trend pengusaha sukses dunia saat ini. Sebut saja misalnya Warren Buffet atau Bill Gates. Warren Buffet dan Bill Gates terbiasa dalam hidupnya untuk terus bisa berbagi dengan banyak orang yang tak mampu. Dan donasi mereka ini pun tentu saja fantastis jumlahnya.

Bagi seorang Muslim, tentu perkara berbagi ini bukan hal baru. Islam seiring kemunculannya bahkan telah sangat lama mengenal istilah Itsar. Itsar sendiri pengertiannya secara bahasa bermakna _”melebihkan orang lain atas dirinya sendiri”_. Sifat ini termasuk akhlak mulia yang harus ada ditengah relasi para amil.

Sifat ini juga dalam cermin besar spirit holopis kuntul baris adalah semangat tertinggi dari sebuah pengorbanan dalam lingkaran persaudaraan. Sifat ini walau bisa mendatangkan kecintaan sesama manusia, sejatinya tak mudah dilakukan. Ia secara logika teramat berat, karena yang dituntut dalam merealisasikan itsar adalah semangat mengorbankan dirinya sendiri demi kepentingan orang lain tanpa mendapatkan imbalan apapun.

Siapa yang rela berkorban tanpa menuntut imbalan tentu bukan hanya istimewa namun juga langka. Semangat untuk mengutamakan selain dirinya untuk kepentingan orang lain, yang bisa jadi perkara pengorbanan ini bukan termasuk perkara ibadah. Untuk para amil, semangat ini bukan hanya tak mudah, namun akan terus menerus dilakukan sepanjang dirinya masih sebagai seorang amil.

Dalam realisasinya bisa saja seorang amil yang tak banyak memiliki kelebihan harta, ia justru dimintai tolong amil lainnya untuk meminjamkan harta atau uangnya yang tak seberapa. Dalam keadaan ini, bisa jadi karena spirit Itsar, ia rela meminjamkan apa yang dimilikinya hanya mengharap ridha Allah semata. Ia sadar ada risiko hartanya tak balik lagi dan ia akan menanggung akibatnya bila ia membutuhkannya nanti.

Gambaran Itsar dalam bingkai holopis kuntul baris itu sebagaimana tercermin dalam hubungan orang-orang anshar dan kaum muhajirin di jaman Nabi dan para sahabat terdahulu. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala ketika menyebutkan keutamaan kaum Anshor, _“Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshar) mencintai orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshar) tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan.”_ (QS. Al-Hasyr : 9).

Jelas sekali, betapa sikap saling mendahulukan ini demikian mewujud nyata tanpa basa-basi dan tak menunggu berbagai teori mereka terima. Mereka tentu bersikap demikian bukan terpaksa, namun penuh pemaknaan yang dalam atas ajaran Islam yang mereka pahami dan yakini. Ditengah kemiskinan dan segala derita yang ada kala itu, mereka benar-benar menunjukan sebuah kemuliaan bersaudara.

Menuju Kualitas Amal Terbaik

Semangat holopis kuntul baris tanpa pemahaman niat dan kualiatas amal yang baik adalah omong kosong. Ia hanya akan jadi pepesan kosong tanpa makna. Hanya sebuah pencitraan tanpa esensi dan penuh gincu kata-kata yang tak berguna.

Esensi bekerja bersama menuju kemuliaan terletak adanya sikap saling bantu, saling tolong dan saling mendahulukan satu sama yang lain. Dan tahukah kita bahwa menurut Kitab *Madarijus Salikin*, ternyata Itsar lebih tinggii derajatnya daripada dermawan. Ini katanya : _”Dermawan adalah memberikan sesuatu yang banyak dengan menyisakan sedikit untuk dirinya atau menyisakan yang sama dengan yang diberikan. Adapun itsar, mengutamakan orang lain padahal ia membutuhkannya”_. (Madarijus Salikin 2/292)

Menuju Tantangan Baru

Inti dari pemaknaan holopis kuntul baris adalah spirit kebersamaan dalam kebaikan. Semangat ini harus terus dijaga, ditumbuhkan dan dirawat agar ia mampu menunjukan buah kebaikannya bagi perbaikan umat manusia dan peradaban zakat yang kita semua inginkan. Dibalik kuatnya menghidupkan semangat itu, berikut ini kenyataan yang harus kita hadapi ke depan yakni adanya empat catatan terkait mengapa kita harus menjaga kebersamaan seluruh stekholders zakat di Indonesia.

Pertama, berakhirnya era Superman

Saat ini sudah bukan era-nya sebuah lembaga hebat sendirian. Mampu mengatasi sejumlah masalah tanpa adanya bantuan dan kerjasama dengan pihak lain. Apapun organisasinya, bahkan pemerintah manapun yang dianggap hebat di dunia, tetap saja ia tak bisa melenggang sendirian membantu semua masalah yang ada.

Persoalan ini semakin rumit manakala ancaman dan gangguan terhadap gerakan zakat semakin hari semakin kuat. Bukan hanya gangguan, muncul pula tarikan yang kuat pada gerakan zakat. Saat yang sama ancaman dari sisi regulasi pun muncul dengan berbagai alasan yang dikemukakan. Amil atau para pengelola zakat yang tak sesuai regulasi zakat harus siap-siap masuk bui atau denda yang jumlahnya fantastis dan tak masuk akal. Ketika awal amandemen UU Pengelolaan Zakat ini muncul, sempat berkembang persepsi di sejumlah kalangan Umat Islam bahwa UU zakat ini memiliki indikasi yang berisiko membatasi niat orang-orang baik yang punya kepedulian pada sesama.

Kedua, menjamurnya lawan yang tak kelihatan

Di tengah era Disruption seperti sekarang ini, gerakan zakatpun tak luput dari pengaruhnya yang tak terhindarkan. Sebagaimana di sejumlah lansekap bisnis, musuh masa depan bisnis sekaligus kompetitor terberatnya bukan pesaing bisnisnya, namun gabungan dari keseluruhan ancaman tak kasatmata.

Laksana lansekap bisnis transportasi yang telah mengalami disruption, perubahan dalam bisnis ini yang kadang disebut juga peradaban uber telah berhasil mengubah situasi persaingan bisnis berubah. Para pemimpin bisnis, termasuk sejumlah petahana yang telah lebih dulu ada menjadi usang dan kehilangan relevansi dalam menghadapi dunia yang baru.

Kini musuh tak kelihatan dunia zakat salah satunya adalah kemunculan sejumlah aplikasi berbagi yang hadir dengan dukungan penuh para ahli IT yang bekerja dengan perangkat lunak. Situasi _”internet of things”_ membentuk peradaban filantropi hari ini. Dalam peradaban ini, dunia filantropi tak lagi bersaing dengan sesama lembaga filantropi melainkan dengan kecanggihan teknologi IT. Mereka menawarkan bukan hanya kemudahan dalam membantu dan menolong sesama, namun juga menawarkan pilihan-pilihan atas dasar kemudahan dan kecepatan eksekusinya di lapangan.

Di tengah situasi kasat mata seperti ini, lalu bagaimana Organisasi Pengelola Zakat (OPZ) menghadapinya? Jawabannya adalah pahami disruption yang terjadi lalu pastikan jalan keluarnya. OPZ mau tidak mau harus berani melihat realitas ini. Berani menghadapi tantangan dan perubahan dengan penuh rasional. Pelajari dan cermati setiap perubahan yang terjadi.

Di era disruption, perubahan besar yang terjadi pada awalnya terkadang dimulai dengan hal-hal kecil dan seolah terabaikan. Termasuk dalam hal ini misalnya mengenai penghimpunan ZIS oleh OPZ, pola-pola konvensional pemasaran OPZ tak bisa lagi mengandalkan iklan media cetak atau hal-hal fisik lainnya, bahkan pola marketing dengan model menawarkan sesuatu dari pintu ke pintu atau model pemasaran langsung kepada pelanggan harus dikaji dan dievaluasi ulang. Jangan-jangan hal tadi, hanya akan menguras sumberdaya yang ada dengan hasil yang tak bisa dipastikan. Sekali lagi mari baca dengan cermat dan teliti tanda-tanda setiap perubahan terjadi sehingga ada kesiapan mengantisipasinya lebih dini.

Ketiga, berjamaah adalah sunah kemenangan

Gerakan zakat adalah medan unik para amilnya berkiprah. Mereka tak melulu tertarik bergabung dengan dunia zakat hanya mengejar urusan salary atau fasilitas semata . Mereka rata-rata bergabung lebih pada urusan idealisme yang dimiliki. Bila ditarik benang merahnya, mestinya urusan idealisme ini menjadi salah satu kekuatan gerakan zakat untuk terus menjaga spirit dalam membantu dhuafa menjadi lebih baik hidupnya.

Idealnya juga para amil yang bergerak di dunia zakat mudah bersatu dan saling menguatkan. Namun godaan untuk menjaga eksistensi dan terlihat menonjol sendiri tetap hadir dan muncul dari sejumlah OPZ. Gerakan zakat sebagaimana kita tahu, kadang masing-masingnya tak satu suara. Dengan beragam alasan yang ada, mereka sering punya agenda sendiri-sendiri. Menyatukan mereka dalam satu barisan dan nafas gerakan bukan hal mudah. Apalagi menjadikan barisan yang tertata rapi untuk melayani kepentingan umat dan bangsa.

Kekuatan gerakan zakat ini penting karena berkaitan dengan tegaknya pilar perubahan sosial umat. Layaknya pilar, ia harus kukuh dan dibangun diatas pondasi yang kuat. Dan pondasi yang kuat dalam konteks perubahan sosial tentu saja adalah dukungan dan partisipasi masyarakat. Dengan kuatnya dukungan masyarakat tadi, maka akan berimplikasi memapankan gerakan perubahan sosial yang akan dilakukan. Sebaliknya, bila landasan kekuatan masyarakat ini rapuh, maka akan rapuh pula bangunan perubahan sosial yang akan dibangun di atasnya.

Bagi OPZ yang ingin hebat sendirian dan hendak terbebas dari beban kehidupan berjamaah silahkan saja dicoba dan dipraktikan agar bisa merasakan bedanya udara kebersamaan dengan kesendirian. Sebagaimana para juru dakwah yang pernah pergi sendirian lalu kembali lagi bergabung, pasti ada cerita untuk apa ia akhirnya kembali. Salah satunya ialah, ternyata berbuat baik tak mudah dilakukan sendirian. Bahkan Nabiyullah Muhammad SAW pun saat dakwah dan membangun masyarakat tetap membutuhkan jama’ah untuk tetap menjaga kesinambungan Islam.

Keempat, Saatnya Sinergi Bukan Basa Basi

Memulai kebaikan di jalan perubahan sosial adalah jalan panjang, bahkan terjal. Dan jalan ini dilaluinya pun tak sebentar, sangat panjang perjalanannya dan mungkin melelahkan bagi yang akan melaluinya. Namun coba perhatikan, bahwa ditengah ketidakmudahan yang ada, sesungguhnya ada sebagian orang yang mampu melewatinya.

Sinergi ini tentu dengan adanya persyaratan awal untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas organisasi pengelola zakat dimanapun di seluruh wilayah Indonesia. Semakin baik sinergi yang dibangun, maka semakin diperlukan suatu rencana aksi yang jelas dan terarah untuk meningkatkan kualitas kerjasama sekaligus efektivitas programnya.

Sinergi yang digagas bisa saja dimulai dari program-program yang sudah ada seperti program pendidikan, ekonomi, dakwah, kesehatan, sosial dan program lainnya. Termasuk program advokasi untuk para tenaga kerja di dalam maupun luar negeri yang terdzolimi dan jadi korban sejumlah pihak yang tak bertanggungjawab.

Dengan itu semua, semangat holopis kuntul baris tak semata slogan dan cita-cita, namun ia bisa diwujudkan nyata. Semangat ini juga tentu saja akan semakin mengokohkan eksistensi gerakan zakat, baik di tingkat nasional maupun regional serta dunia. Saatnya gerakan zakat tumbuh sehat, kuat dan berdiri bersama membela para dhuafa hingga kepalanya tegak dan dadanya bergemuruh kesyukuran karena hidupnya tak sendiri lagi bila ada masalah. Ada tangan-tangan terampil dan kuat yang akan mengajak dan membimbing mereka menuju hari-hari ke depan yang lebih cerah.
Semoga. (Nana Sudiana/Sekjen Forum Zakat/Direktur Pemberdayaan IZI)

LEAVE A REPLY