Cara Belajar Islam Bagi Orang Sibuk

0
166

Di mana tempat yang paling bagus untuk belajar agama (Islam)? Kalau masih muda, masa-masa sekolah, tentu saja yang ideal di sekolah-sekolah Islam. Yang paling saya rekomendasikan, sekolah-sekolah “Islam Terpadu”. Sudah terbukti, lulusannya, pemahaman keIslamannya bagus, termasuk juga akhlaknya. Mereka juga banyak yang kemudian bisa masuk universitas terbaik dan bisa berkontribusi untuk bangsa Indonesia.

Atau, kalau tidak, di sekolah-sekolah alam. Mutunya tak kalah dibandingkan dengan sekolah negeri. Selebihnya, ya di pesantren. Seperti misalnya Pondok Pesantren Gontor di Jawa Timur. Di situlah anak-anak kita nanti belajar agama, sehingga punya bekal yang cukup ketika mereka masuk kampus-kampus umum.

Tapi, bagaimana bagi kita. Maaf, seperti saya dan mungkin orang kebanyakan yang tidak pernah belajar agama pada guru atau sekolah-sekolah khusus berbasis agama. Tak ada kata selain mencari alternatif sendiri cara yang paling memungkinkan untuk bisa mengupgrade pemahaman keagamaan kita.

Bagi saya, cara terbaik untuk belajar agama ya kembali ke masjid. Kita datangi masjid-masjid yang adakan kajian-kajian rutin . Biasanya Mingguan. Alokasikan waktu. Ya, seminggu sekali sebuah langkah awal untuk kita mulai (lagi) memperdalam pemahaman keagamaan kita. Kajian Fiqih, Sirah, Tafsir, pemikiran Islam dll perlu kita datangi. Kalau tidak, seminar atau workshop kita datangi. Kalau bisa jangan sampai dalam sebulan kita tak pernah belajar agama sama sekali. Bisa gawat hidup kita nanti. Bagi orang kantoran, kajian kantoran juga banyak digelar, sayang kalau dilewatkan.

Bagi komunitas yang akrab dengan “Lingkaran Peradaban” Mingguan. Boleh juga terus datangi. Walau jujur, saya sendiri masing tergolong malas dan sering tak datang tanpa alasan yang jelas. Sampai ngambek nggak datang sama sekali, sekian pertemuan. Ups. Memang, boleh dibilang dalam “Lingkaran Peradaban” itu tak banyak ilmu agama yang kita dapatkan, tapi silaturahmi dengan saudara sesama muslim dengan berbagi cerita dan pemahaman agama, menjadikan kita biasanya punya ghirah kembali dalam beragama, terutama amalan harian. Kalau punya uang lebih, bisa hadirkan guru bahasa Arab ke rumah. Sebab, dengan pengetahuan bahasa Arab itulah menjadikan kita lebih mudah untuk belajar agama dan memahami ajaran-ajaran yang terkandung dalam kitab-kitab yang ditulis ulama terdahulu.

Kalau memang benar-benar sibuk dan tidak sempat bagaimana? Baca buku. Minimal dalam sebulan baca beberapa lembar buku. Bagusnya sih sebulan 3 buku. 1 Buku yang berhubungan tentang karir atau pekerjaan kita, 1 buku tentang agama, 1 buku tentang hobi atau minat kita, termasuk buku-buku yang bisa menghibur dan merangsang imajinasi seperti novel. Itulah beragam jalan yang bisa kita tempuh agar Islam , agama yang kita anut ini selalu dekat dengan kita.

Kenapa kita harus terus upgrade pemahaman keIslaman kita? Karena di era digital ini, terutama paparan media sosial, banyak sekali narasi-narasi dari aktivis atau pegiat media sosial yang saya nilai kurang pas dalam memahami agama. Kadang, terlihat tidak punya ilmu yang cukup tapi malah menyerang atau nyinyir terhadap agamanya sendiri. Ini mengkhawatirkan. Itu sebabnya, saya dan kita semua, ada baiknya saling mengingatkan. Agar kita bisa menemukan hakikat kebahagiaan sejati selaras dengan spirit peradaban dalam agama yang kita yakini. (Yons Achmad. Founder kanet Indonesia).

LEAVE A REPLY