Rismawati, Menyemai Dakwah di Bumi Alor

0
113

Kisah ujian dan cobaan merupakan hal yang selalu melekat dengan para nabi dan rasul. Tidak ada para nabi yang tidak mendapatkan ujian berat. Demikian juga dengan kisah para mubaligh, kelompok yang mewarisi tugas para nabi dan rasul. Ujian-ujian berat kerap mewarnai hidup mereka. Namun, biasanya mereka akan tegar dalam menjalaninya.

Seperti yang dilakoni seorang ustazah asal Sukabumi, Rismawati. Pada 2010, ia bersama suami memulai karir dakwahnya di Kabupaten Alor Nusa Tenggara Timur. Keprihatinannya terhadap kondisi umat Islam yang minoritas di Alor membuatnya kukuh ingin membuka sekolah agama di sana. Walau sebenarnya, ia harus berjuang dengan kerasnya hidup yang jauh dari kata layak.

Sepasang suami istri yang keduanya sarjana itu memutuskan tinggal di Perumahan Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) Blok C Nomor 38 Ulimonong Desa Alor Besar. Rismawati merupakan seorang sarjana tamatan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Barakah Sukabumi. Sedangkan, suaminya seorang sarjana hukum. “Keadaan di sini memang sangat jauh dengan apa yang dilaporkan Pemda. Kalau dilihat rumahnya, sangat tidak layak huni. Tapi, karena kita judulnya dakwah, tidak ada istilah layak tidak layak. Harus kita terima,” ujar sang suami, Arapah Laka SH kepada Republika, Senin (1/12).

Tekad Risma memulai dakwahnya di Kabupaten Alor berawal dari keprihatinannya melihat anak-anak Islam yang bersekolah di sekolah non-Muslim. Anak-anak tersebut diberikan pendidikan gereja yang sebenarnya bertentangan dengan akidah mereka.

“Banyak anak-anak Islam yang ada di sekolah Nasrani. Kalau mereka melakukan kesalahan, mereka diberikan sanksi untuk menghadap Roh Kudus. Mereka diajarkan oleh guru mereka, ‘Coba kamu akui dosa kamu dan mengatakan Bapa ampuni dosa saya’,” jelas Risma.

Ia bersama suami pun prihatin, apa jadinya generasi Islam yang akan datang jika sudah diberikan pendidikan gereja sedari kecil. “Ini yang mengiris-iris hati saya. Jadi, saya diajak oleh teman, ‘Umi mari kita buka sekolah. Biar anak-anak kita bisa sekolah dan mendapatkan pendidikan Islam’,” ungkapnya dengan suara pilu.

Empat tahun sudah Risma bersama suami tinggal di Alor. Kedua anaknya, ia titipkan bersama orang tuanya di Sukabumi. Kerinduan kepada anaknya ia jadikan sebagai pemicu semangat untuk mengajar anak-anak Muslim di Alor. Baginya, jika ia menjaga akidah anak-anak Alor dengan ajaran Islam yang benar, anak-anaknya di kampung halaman juga akan dijaga Allah. “Jika ada pulsa, saya suka telepon mereka (anak-anak). Tapi, memang tidak setiap hari,” ujarnya.

Bersama rekan-rekan Muslimah di tempatnya tinggal, ia berhasil membuka tiga tempat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Pada 2011, PAUD Harapan Bunda di Wetabua ia dirikan bersama rekan-rekannya. Menyusul PAUD Nasty di Dulolong pada 2012 dan PAUD An Nur Dunia Anak di Ulimonong pada 2013. Masing-masing PAUD berada di kecamatan yang berbeda. Semuanya demi memberikan pendidikan Islam kepada anak-anak Muslim di NTT. “Background saya memang pendidikan. Dulu di Sukabumi saya sempat mengajar PAUD juga,” katanya.

Tidak hanya berhenti di PAUD saja, tetapi Risma juga merambah dakwahnya ke kalangan majelis taklim ibu-ibu. Umumnya, mereka adalah orang tua wali murid dari anak-anak yang ia didik di PAUD An Nur. “Tentu saja saya prihatin. Bayangkan saja, kita orang Islam sering mengadakan pelatihan-pelatihan di gereja-gereja,” ucapnya.

Apa yang ia jalani di Alor, jauh dari tujuan mencari materi. PAUD dan majelis taklim sama sekali bukanlah ladang untuk meraih keuntungan duniawi. Semuanya hanya semata-mata untuk dakwah. “Secara materi tidak ada (yang bisa didapatkan). Ini semua berangkat dari keprihatinan dengan anak-anak di sini. Hati saya serasa teriris-iris melihat mereka yang tidak mendapatkan pendidikan Islam yang semestinya,” ujarnya.

“Di sini kita harus betul-betul sabar. Kita harus terus bergerak,” kata Risma menambahkan.

Sebenarnya, secara fisik, Risma tidaklah sebaik wanita yang lain. Kakinya yang divonis cacat membuatnya terkendala melakukan aktivitas. Namun, hal itu tidak menyurutkan semangatnya mengajar anak-anak Muslim di Alor. “Suami saya mengerti, walau saya cacat begini, saya tetap tidak bisa diam melihat saudara-saudara saya dalam kondisi begitu,” katanya memaparkan.

Mengumpulkan ibu-ibu untuk ikut majelis taklim dan wirid pekanan bukan perkara yang mudah bagi Risma. Ia sering mendapatkan penolakan-penolakan dari ibu-ibu setempat. “Saya sering kontak mama-mama dari anak-anak ini. Saya sampaikan, ibu mari kita silaturahim dan mengaji. Ada yang menolak, ada yang alasannya dilarang suami, macam-macam,” jelasnya.

Hingga saat ini, setidaknya ada 12 orang anggota majelis taklim di Bulolong yang rutin mengikuti pengajian setiap Jumat. Kebanyakan dari mereka adalah orang tua siswa PAUD An Nur.

Selain itu, di rumah Risma juga membuka Taman Pendidikan Alquran (TPA). Ada juga pembinaan untuk anak-anak difabel yang berkebutuhan khusus. Ia mengatakan, saat ini ada empat orang anak-anak berkebutuhan khusus yang masih ia bina. “Ada empat orang anak-anak yang cacat fisik berat. Saya berusaha menyemangati mereka, mereka juga punya harapan pendidikan dan masa depan,” jelasnya.

Di tempat tinggalnya, ia juga menggelar pembinaan mualaf bagi mereka yang baru masuk Islam. Selain pengajian, para mualaf juga diberikan kerudung dan bantuan seadanya.

Untuk memenuhi kebutuhan operasional PAUD An Nur, TPA, dan kegiatan pengajiannya, ia pernah mengajukan proposal bantuan kepada pemerintah setempat. Namun, hal itu tidak pernah digubris. “Kita sangat mengharapkan umat Islam yang diberi kelebihan rezeki oleh Allah bisa membantu saudara-saudaranya di sini yang masih susah. Tidak perlu dalam bentuk uang, kita di sini sangat butuh mushaf Alquran, buku iqra, buku-buku bacaan bagi para mualaf, dan alat-alat permainan untuk PAUD,” ungkapnya. (Sumber: Hannan Putra/ Republika/5/12/14)

***

LEAVE A REPLY