Berpihaklah dalam Berpikir

0
47

Ada pernyataan populer yang sering dikutip tanpa diikuti sikap kritis. “Bersikap adillah sejak dalam pikiran. Jangan menjadi hakim bila kau belum tahu duduk perkara yang sebenarnya,” kata Pramoedya Ananta Toer. Hanya saja, dari sejarah, kita tahu betapa tidak adilnya Lekra dan PKI kepada yang berseberangan waktu itu. Pram ada di lingkaran itu. Ironis.

Kini, kutipan itu sering digunakan untuk membela diri ketika seseorang mulai mengeritik dirinya. Mirip Jokowi yang berpandangan “Kritik harus pakai data, kritik harus dengan solusi”. Sebuah sesat pikir. Sebab, kritik satu hal, dan solusi itu hal lain. Kalau pengeritik pemerintah minta solusi, lalu apa guna pemerintah? Itu sebabnya, bagi saya, pernyataan Pram itu mungkin sebuah nasehat yang sungguh mulia. Bagus untuk dipakai pribadi, tapi berpotensi disalahgunakan, salah satunya oleh penguasa.

Alih-alih bersikap adil, saya lebih memilih untuk berpihak dalam berpikir. Terutama, ketika menyoal kebijakan publik yang tidak beres di negeri ini. Memilih netral dan cari aman, bagi saya adalah pengkhianatan. Contoh kasus paling anyar bagaimana keberpihakan dalam berpikir itu hadir , bisa kita simak. Amien Rais menyebut salah satu kebijakan Jokowi sebagai “Pengibulan”. Dalam kasus ini, posisi Amien Rais jelas tak memilih cari aman. Dia berpihak kepada kepentingan publik. Tak rela tanah negeri ini hanya dimiliki segelintir orang saja.

Kalau mau aman, sebagai tokoh berumur 70 tahunan, lebih enak diam dan mengurus cucu. Tapi Amien Rais tidak, masih terus bersuara lantang ketika ada ketidakberesan di negeri ini. Coba bandingkan dengan anak-anak muda dari PSI yang lebih memilih membebek (untuk tak mengatakan menjilat) kepada penguasa? Memalukan. Itu sebabnya, saat ini, keberpihakan itu penting. Mulai dari cara berpikir, kemudian diikuti dengan cara bersikap.

Di lingkaran pergaulan, saya kadang menyindir mereka yang baru diberikan beasiswa sedikit saja sudah berubah cara berpikirnya. Awalnya, aktivis gerakan mahasiswa Islam. Militan, paling terdepan menyuarakan ketidakberesan. Setelah lulus kuliah, seperti biasa, cenderung bersikap netral, cari aman. Padahal, tugas pendidikan, salah satunya menjadikan seseorang bersikap kritis, berpihak kepada masyarakat yang tertindas.

Untuk itu, menyambut tahun politik, kita mememerlukan lebih banyak lagi tokoh dan aktivis yang berpihak dalam berpikir. Apalagi seorang muslim. Lewat sejarah Islam, kita bisa mencontoh bagaimana cara Abu Dzar Al-Ghifari dalam berpikir dan bertindak. Ashad Kusuma Djaya (2016) dalam “Islam Bagi Kaum Tertindas” menggambarkan bagaimana watak dan tabiatnya yang menentang setiap kebatilan di manapun ia berada. Manusia semacam inilah yang diperlukan sebagai jawaban untuk bisa mengubah keadaan. []

Depok, 22 Maret 2018

Yons Achmad. Kolumnis, tinggal di Depok. Pendiri Kanet Indonesia. Mantan Humas KAMMI Pusat.

LEAVE A REPLY